Bismillaahirrahmaanirrahiim

Atas nama penguasa cinta di seluruh jagat raya

Pages

Spare time


Barangsiapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya”

Tujuan #1: UANG

Tujuan #2: TEMAN

Tujuan #3: HOBI (MEMBACA, OLAHRAGA, NULIS)

Itulah ringkasan tujuan hidup seorang wanita lajang berusia 25 tahun. Tentu saja tidak ada yang aneh dari daftar tuuan itu, hingga hari ini..ketika kelelahan ini terasa memuncak, barulah aku sadari apa tujuanku yang sesungguhnya.

Setiap pagi aku berangkat kerja, melakukan pekerjaan yang teramat kucintai, bertemu teman-teman yg menyenangkan tiada duanya, dan tentu saja selalu bertemu dengan si dia yg selalu bisa membuatku bahagia…Itulah rutinitas hidupku, sepanjang hari..


Bahagiakah aku? Mungkin….Tapi mungkin juga TIDAK. Mengapa?

Ketika hampir setiap malam aku bertanya pada diriku sendiri, dimanakah kuletakkan orang tuaku? Adikku? Tetanggaku, dan saud

ara2 ku yang laen? Mengapa mereka tidak masuk di dalam daftar tujuanku??


Ketika aku mendengar kabar bahwa seorang wanita yang tinggal di dekat rumahku telah tiada…dan aku baru tau setelah 6 hari kepergiannya… Dimana aku selama ini?

Mungkin masih banyak lagi berita yang aku lewatkan..tapi itulah kabar yang sulit aku percayai. Mengapa aku baru tau kemarin?? Benarkah hidupku ini nyata? Atau cuma ilusi?


Hanya diperlukan waktu 1 jam dari 24 jam untuk berfikir, merenung, dan introspeksi..”apa yang sudah aku lakukan hari ini?” Tak perlu terlalu sibuk berlari, kita perlu waktu beristirahat barang sejenak..agar tak terlalu lelah…

Seperti neraca, begitulah semestinya hidup..penuh
deng
an KESEIMBANGAN dan KEDAMAIAN.

Tentang Kiswanti



Kiswanti nama wanita itu..
Siapakah dia? Mungkin tidak banyak orang tahu. Dia bukan artis ternama, istri pejabat, atau wanita karir yang super sibuk.
Begitu juga aku. Akupun sebenarnya tidak mengenal Kiswanti. Aku sama sekali tak pernah menatap wajah Kiswanti secara langsung, berjabatan tangan, berbicara, ataupun bertemu dengannya. Meski demikian, AKU INGIN MENULIS TENTANG KISWANTI.

Kiswanti...sebuah nama sederhana yang aku baca dari sebuah buku yang ditulis oleh bapak Nur Cholis Huda. “Anekdot Tokoh-Tokoh Muhammadiyah,” demikianlah buku tersebut dinamai oleh penulisnya. Aku membeli buku itu waktu berkunjung ke PWM Surabaya 1 tahun yng lalu, tepatnya 31 Juli 2008. Meskipun buku itu bukan buku best seller, tapi judul yang disandangnya menggelitik hatiku, menggoda untuk membacanya. Setelah aku membelinya, hanya beberapa halaman saja yang sempat aku baca, sesuai dengan judulnya, maka buku itu memang banyak mengisahkan tokoh-tokoh ternama ynag pantas dijadikan panutan, seperti A.R Fachrudin, Buya Hamka, Mas Mansur, dll. Setelah aku baca beberapa bagian dari buku itu, (seperti biasa) masuklah buku itu kedalam almari koleksi buku2 ku yang (tentu saja) amat jarang kusentuh, apalagi ku buka. Namanya juga koleksi.he…

Hingga pada suatu hari..tepatnya tanggal 15 Juli 2009, ketika aku membuka kembali buku itu (bukan karena benar2 ingin membaca, tapi karena saat itu aku sedang menunggu giliran pijat yg lamanya minta ampun, jadi daripada bosen nunggu, mendingan baca, selain dapet ilmu kan bisa juga untuk membunuh rasa sepi dan bosan) aku membaca bagian yang berjudul “Tak Mau Menunggu”. Dan ya, disanalah aku ‘mengenal’ Kiswanti. Di dalam tulisan itu diceritakan bahwa Kiswanti adalah seorang wanita biasa yang telah melakukan hal yg luar biasa. Mengapa ia biasa? Dan mengapa hal yg dilakukannya dianggapa luar biasa?
Kiswanti hanyalah tamatan SD. Dia berasal dari keluarga sederhana, yang karena tak ada biaya, tidak mampu bersekolah (pendidikan SD ia dapat melalui program beasiswa). Bahkan sebenarnya Kiswanti ‘sembunyi2’ daftar ke sekolah karena ayahnya tak punya uang. Dan sebelum masuk sekolah itu, ia telah mengenal huruf lewat koran2 bekas yang dibawa ayahnya sepulang dari bekerja sebagai tukang becak. Kiswanti kecil bahkan pernah diancam tidak naik kelas karena belum bayar uang sekolah. Maka tidak heran apabila banyak ejekan menghujam Kiswanti semasa sekolah. Dan guru nya pun tak tega melihat Kiswanti terus diejek teman2 nya. Demi melihat Kiswanti yang ingin mengasingkan diri dari teman2 yg memusuhinya, sang guru pun mempercayai Kuswanti untuk menjaga perpustakaan sekolah. Dan di perpustakaan itulah ‘kisah cinta’ Kiswanti berawal..
Kiswanti kecil tak pernah membiarkan dirinya berpangku tangan menjaga perpustakaan. Ia membaca buku2 yg ada di sana. Dan karena sering membaca buku2 itulah, tumbuhlah rasa cinta di hatinya kepada buku. Sejak itu Kuswanti begitu ‘tergila-gila’ dengan buku. Buku adalah kekasih hatinya. Waktu ayahnya ingin memberinya hadiah ulang tahun, ia memilih dibelikan buku. Dan pada saat ia bekerja setelah tamat sekolah, ia juga minta di bayar dengan buku, bukan dengan uang.

Lalu siapa sebenarnya Kiswanti?
Kalau pernah membaca koran Jawa Pos tentang seorang wanita berusia 47 tahun yang berkeliling dari kampung ke kampung naik sepeda dengan membawa setumpuk buku untuk dipinjamkan ke orang2 yg ingin membaca, dialah Kiswanti. Seorang wanita sederhana yang begitu mencintai buku. Mengapa judul tulisan itu “Tak Mau Menunggu?” Karena memang Kiswanti tidak menunggu kaya untuk berkeliling ‘menjajakan’ buku. Ia tidak menunggu bantuan dari pemerintah untuk membuka perpustakaan 24 jam di rumahnya supaya setiap orang bisa membaca… Kiswanti tak kenal kata ‘menunggu’ karena Kiswanti hanya mampu ‘berbuat’. Kiswanti punya seribu nyawa karena ia terus hidup di hati setiap orang yang mengenal arti kata ‘belajar’ melalui buku2 yang dijajakan Kiswanti.

Aku pernah membaca kisah tentang Kiswanti di koran sekilas saja, dan merasa sedikit salut. Namun kemarin, ketika (tak sengaja) kutemukan kisah itu di buku ku yang berdebu, aku baru menyadari makna besar di balik kisah sejati itu. Hatiku bergetar mebaca semangat perjuangan Kiswanti melawan kebodohan. Kiswanti tidak mengenyam pendidikan tinggi, tapi dialah ilmuwan sejati. Kiswanti adalah seoanag ilmuwan besar yang lahir dari sebuah koran bekas dan tumpukan buku usang. Setiap huruf dalam buku2 itu ‘menghidupi’ Kiswanti, karena ia berbuat untuk semua, tanpa membeda-beakan, balita, remaja, dan orang tua, semua ia rangkul agar terus belajar…Kiswanti sama dengan John Wood. Meski yang membedakan adalah riwayat mereka; John Wood berangkat dari sebuah sekolah di Nepal yang pernah ia kunjungi, Kiswanti berangkat dari sebuah perpustakaan kecil di SD tempat ia menyelesaikan pendidikan formalnya. John Wood seorang mantan eksekutif Microsoft Corporation, Kiswanti seorang tamatan SD. Namun John Wood sama dengan Kiswanti. Mereka sama2 mencintai buku, dan sama2 membantu orang lain belajar . Dan yang terpenting, mereka sama2 memiliki ROOM TO READ, tempat untuk belajar, membuka jendela dunia..

Kalau boleh meninjam kata-kata Cak Nun,
Kiswanti gemar bersepeda,
BERKELILILING MENJAJAKAN CAHAYA….

Tula's Family

Tula's Family
persahabatan yang indah

My Diaries

My Diaries
tempat mencurahkan segala rasa

Bali Bagus

Bali Bagus
sebuah euforia

Kemanakah kaki (kaki) ini akan melangkah...?

Kemanakah kaki (kaki) ini akan melangkah...?

JOLOTUNDO

JOLOTUNDO
sebuah tempat bersejarah yang "mistis"

Guests

free counters

About Me

My photo
Inquisitive, always want to learn something new

Tulus - Sincere

Tulus - Sincere
sanggup memberi tanpa harus menerima----- giving without asking any return

Prophet Muhammad said.."Do the businesses for your life as if you would live forever

AND do the obligations for the life after death as if you would

die tomorrow."


Buddies

Buddies
persahabatan dengan sejuta kisah

GOOD FRIEND is someone who’s like…

A blanket- gives you warmth

A house- gives you shelter

Perfume- gives you fragrance

Milk- gives you nutrition

Cloth- gives you protection

Yet,

BEST FRIEND is the one who’s like…

A mother- gives you everything,

but asks you nothing in return